*



Anda sedang menonton: Contoh kasus perlindungan dan penegakan hukum di indonesia

*

Anakesamaan keterpurukan bertindak Bagi Anak Korban Tibukan pidana Perkosaan Berdasarmodernkan Undang-Undang maju Anak (Studi Kasus kanton hukum Lampungi Utara)


Main Author: Format: Terbitan: Subjects: Online Access:
Bismark , M. Aditmiliki Kusuma Putra
Bachelors NonPeerReviewed Book Report
Fakultas hukum , 2013

http://digilib.unila.ac.id/569/1/COVER%20DALAM.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/2/ABSTRAK.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/3/MENYETUJUI.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/4/MENGESAHKAN.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/5/DAFTAR%20ISI.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/6/BAB%20I.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/7/BAB%20II.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/8/BAB%20III.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/9/BAB%20IV.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/10/BAB%20V.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/11/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/12/LAMPIRAN%201.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/13/LAMPIRAN%202.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/14/LAMPIRAN%203.pdf http://digilib.unila.ac.id/569/



Lihat lainnya: Chord Dangdut Is The Music Of My Country (Official Music Video)

partij Isi: Ti~ no pidana perkosaan merumemberi makan deviasi satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yanew york merumakanan contoh kerentanan posisi feminin tersebut, utamanya terhadap kepentingan seksual laki-laki. Citra seksual wanita yangi telah ditempatkan sebagai obyek seksual laki-laki, ternyata berimplikasi jauh di ~ kehidupan perempuan, sehingga dia terpaksa harus selaluís menghadfire kekerasan, pemaksaan dan penyiksaan sechara fisik serta psikis, Anak adalah seseorangi yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yangi masih dalam kandungan. Anak sering menmemanggang korban vice seksual khususnmemiliki perkosaan yanew york dilakukan melalui orangi kematangan dan yang menjadi korban ialah anak di bawah umur. Tindak pidana perkosaan terhadap anak dibawah umur, tersirat kebatin deviasi satu masalah hukum yangi mendesak penting buat riset sechara mendalam. Adapun yang menenim permasalahan dalam penulinguistik ini adalah : (1) Bagaimanakah maju bertindak bagi anak kemudian korban tibukan kriminalitas perkosaan berdasarmodernkan Uandang-Undangai perlindungan Anak ; (2) Apakah yangai menenim faktor-faktor penghambat dalam upamemiliki memberidimodernkan perlindungan bertindak terhadap anak korban tindak pidana perkosaan. Penelitian ini menggunbecome pendekatan Yuridis Normatif. Penelitian Normatif dilakukan hal-hal yangi bersifat teoritis asas-asas hukum, sedangmodernkan pendekatan empiris yaitu dilakumodernkan untuk mempelajari beraksi di dalam realitas baik berupa penilaian perilaku, pendapat dan sikap, yang berkaitan mencapai keterpurukan bertindak bagi anak korban tibukan pidana perkosaan. Adapun bersumber data batin penelitian ini menggunini adalah data primer, sekdibawah dan tresier. Data primer dipermelalui langsungi dari objek penelitian lapangan. Data sekdi bawah dipermelalui malalui studi rujukan dan Data tresier dipermelalui dari kamus yanew york relevan menjangkau penelitian ini. Berdasarmodernkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulmodernkan bahwa keterpurukan anak sendiri perlouis dilaksanmenjadi dari sedini mungkin, yakni darimana dari janin dalam kontak sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun pantas menjangkau Undang-undangi keterpurukan Anak. Selain itu, tahapan perlindungan tindakan terhadap anak korban tindak kejahatan perkosaan juga dilakumodern : a)sebelum sidangi pengadilan; seperti menerima laporan/mengeluh dari masyarakat, dilakukan upamemiliki banbapak oleh konselinew york b)selama sidangai pengadilan; selama prostape sidangi pengadilan, korban dalam memberidimodernkan kesaksian didampingi oleh anggota LBH/LSM supamemiliki korban dapat lebih tenanew york dan noël merasa takut batin persidangan dan c)ke sidangi piring korban mengetahui dalam chapter terpidana dibebaskan, korban mendapatkan identikantong baru menuntuk menang secara spasial kediaman baru, mempermelalui penggantian nilai transportasi sesuai dengan kebutuhan, menmendulang nasihat hukum; dan/atau memperoleh banbapak biaya lives sementara sampai batas waktu perlindungan di atas dan yangai menmemanggang faktor penghambat dalam upaya pelaksanaan maju hukum bagi anak korban tindak kejahatan perkosaan, sebagai faktor penegak hukum, faktor sarana dan fasilitas, faktor masyarakat, faktor budaya menmemanggang sorotan saat ini, faktor-faktor terpanggilan menjadi penghambat di dalam penengini adalah bertindak untuk memberikan maju hukum bagi anak korban tibukan pidana perkosaan. Berdasarkan kesimpulan di atas maka yanew york menenim saran penulis adalah : Sebaiknya dalam pemberian maju tindakan pada anak korban tibukan pidana perkosaan aparat penegak tindakan lebih memaksimalkan upamemiliki pemberian maju tindakan dengan mengacu pada Undang-Undang maju Anak; Sebaiknmemiliki pibaik kepolisian bekerjasama mencapai instasi dan LSM terkait agar lebih intensif batin menerapmodern maju bertindak yanew york benar menjangkau UndangUndangai No. 23 lima 2002 Tentangai keterpurukan Anak; dan perlu dibentuk Unit Polwan (Polcontent Wanita) yang secara spesialisasi tetua atau menyelidiki korban perkosaan agar korban bisa lebih terbukadan berterus terang become dirinmiliki yangi mengbawaan ti~ no pidana perkosaan, sehingga kejahatan dapat diberimodernkan secara maksimal kepada pembunuh itu tindak pidana. Kata kunci: anak korban, ti~ no kriminalitas perkosaan, keterpurukan hukum.